biksu radikal

Myanmar kembali menjadi perhatian warga dunia setelah terjadinya protes yang dilakukan oleh pendukung Ashin Wirathu. Sekitar lebih dari 300 orang mengadakan demonstrasi di depan pagoda Shwedagon yang ada di Kota Yangon, Myanmar pada Kamis 30 Mei yang lalu.

Unjuk rasa dari para pendukung Ashin Wirathu tersebut merupakan hasil dari diterbitkannya surat penangkapan biksu radikal itu oleh pengadilan Yangon pada Selasa 28 Mei lalu.

Meskipun Ashin Wirathu telah dikenal sebaga biksu yang radikal, tapi ia masih memiliki sejumlah pendukung setia dengan jumlah yang cukup banyak.

Perintah penangkapan tersebut dinilai berlebihan oleh pendukung Ashin Wirathu sehingga mereka membela biksu tersebut hingga rela melakukan unjuk rasa.

Biksu Ashin Wirathu ditangkap karena Pidatonya yang Kontroversial

Surat perintah penangkapan Ashin Wirathu yang dikeluarkan oleh pengadilan Yangon adalah buntut dari pidatonya yang kontroversial. Biksu tersebut mengkritik pemerintahan Myanmar dan mengatakan jika pemerintah telah melakukan korupsi.

Tak hanya itu saja, biKsu itu juga menuduh jika pemerintahan Aung San Suu Kyi ingin mengganti konstitusi negara yang bisa berakibat pengurangan otoritas militer. Hal tersebut membuat Ashin Wirathu disebut melakukan dugaan penghasutan hingga pengadilan mengeluarkan surat penangkapannya.

Pendukung Ashin Wirathu Melakukan unjuk Rasa

Pagoda paling suci di kota Yangon yaitu pagoda Shwedagon dipilih menjadi tempat aksi unjuk rasa yang dilakukan oleh pendukung setia biksu radikal tersebut.

Mereka protes dan tidak terima dengan dirilisnya surat penangkapan Ashin Wirathu. Biksu tersebut terjerat pasal penghasutan, tapi menurut pendukungnya hal itu sangatlah tidak adil.

Pasalnya Ashin Wirathu memberikan kritik kepada pemerintah secara terbuka dan hal itu boleh dilakukannya karena ia juga seorang warga negara Myanmar.

Dia (Ashin Wirathu) mengkritik pemerintah dengan terbuka di hadapan publik sebagai warga negara. Sehingga menggunakan pasal sebagai upaya melakukan penghasutan kepada dirinya tentu saja perbuatan yang sangat tidak adil,” ungkap salah satu pendukung biksu tersebut, Win Ko Ko Lat yang dilansir dari Reuters.

Pihak kepolisian sendiri dikabarakan masih belum menetapkan apa sebenarnya dasar penangkapan Ashin Wirathu, apakah melaui pasal membawa ujaran kebencian atau malah penghinaan kepada pemerintah.

Nantinya jika biksu tersebut terbukti benar bersalah maka bisa terancam hukuman penjara selama 3 tahun.

Ashin Wirathu dikenal Sebagai Biksu Kontroversial

Biksu yang memiliki julukan Buddhist bin Laden ini memang dikenal sebagai seorang biksu yang radikal dan sangat kontroversial. Ia sering memberikan kritik maupun mengeluarkan pendapat yang cukup berani sehingga selalu menjadi pusat perhatian.

Ashin Wirathu sebenarnya merupakan seorang biksu nasionalis yang memiliki pengaruh politik dan pendukung yang kuat di Myanmar. Ia menjadi sosok yang berpengaruh setelah terjadi transisi pemerintahan dari militer kepada kalangan sipil pada tahun 2011 lalu.

Biksu yang satu ini dalam pidato-pidatonya selalu mengungkapkan hal-hal yang sangat kontroversial. Ia pernah menjadi bahan sorotan dunia setelah memberikan pidato berupa ujaran kebencian kepada kaum muslim Rohingnya di Myanmar.

Bahkan ia juga menyebut jika kaum muslim Rohingya adalah migran yang ilegal di negaranya.

Para biksu Buddha lain tidaklah sependapat dengan Ashin Wirathu yang suka menggunakan jalan kekerasan. Bahkan karena pidato ujaran kebencian yang dilakukannya, pernah membuat otoritas tertinggi bidang keagamaan di Myanmar melarangnya untuk memberikan pidato selama satu tahun.

Ashin Wirathu sebelumnya dikabarkan berada di kota Mandalay, tapi baik pendukung atau polisi masih belum mengetahui di mana sebenarnya ia berada. Seandainya nanti biksu radikal tersebut terbukti bersalah dan dipenjara maka itu akan menjadi kedua kalinya ia berada di balik jeruji besi.

Sebelumnya ia pernah dipenjara pada tahu 2003 lalu dan dibebaskan pada tahun 2012 karena mendapatkan amnesti.